Skip to main content

Untukmu yang ada disitu

Malam ini kutuliskan sesuatu untukmu, untukmu yang ada disitu. 
Kau tau kabut? Malam lalu dia berlarian diantara pucuk-pucuk pohon, menuruni gunung menuju ke belakang rumah tempatku menengadah. Memandang bulan yang tak penuh, namun cahayanya bagaikan purnama. Ah ya, awan disekitar bulan yang bukan purnama seperti mengerti apa itu harmoni. Mereka menggumpal kelabu mengelilingi satelit bumi. Pementasan ini terpantul sempurna dikubangan air laut yang pasang. Kalau kau tau, sungguh malam itu adalah waktu yang tepat untuk merindu. Yah bukan berarti aku melakukannya, hanya saja... ya memang aku tidak melakukannya.
Kadang-kadang aku bertanya, untuk apa kita hidup di dunia? Untung saja jauh-jauh hari aku telah temui jawabannya. Retoris. Perenungan di malam-malam berbintang, berkabut, berpurnama telah membuatku menanyakan banyak hal, kembali memikirkan banyak hal dan tentu saja menikmati banyak hal.
Malam lalu listrik tidak menyala, pun malam-malam sebelumnya. Tapi aku menikmati ini, sendiri.
Maka dinginnya angin malam merambat lambat ke kusen jendela, menghembuskan uap air yang bercampur udara. Membelai nyamuk-nyamuk kurus dan juga pipiku. Ya, pipiku.

Untukmu yang disitu, kapan kesini?

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.