Malam ini kutuliskan sesuatu untukmu, untukmu yang ada disitu.
Kau tau kabut? Malam lalu dia berlarian diantara pucuk-pucuk pohon, menuruni gunung menuju ke belakang rumah tempatku menengadah. Memandang bulan yang tak penuh, namun cahayanya bagaikan purnama. Ah ya, awan disekitar bulan yang bukan purnama seperti mengerti apa itu harmoni. Mereka menggumpal kelabu mengelilingi satelit bumi. Pementasan ini terpantul sempurna dikubangan air laut yang pasang. Kalau kau tau, sungguh malam itu adalah waktu yang tepat untuk merindu. Yah bukan berarti aku melakukannya, hanya saja... ya memang aku tidak melakukannya.
Kadang-kadang aku bertanya, untuk apa kita hidup di dunia? Untung saja jauh-jauh hari aku telah temui jawabannya. Retoris. Perenungan di malam-malam berbintang, berkabut, berpurnama telah membuatku menanyakan banyak hal, kembali memikirkan banyak hal dan tentu saja menikmati banyak hal.
Malam lalu listrik tidak menyala, pun malam-malam sebelumnya. Tapi aku menikmati ini, sendiri.
Maka dinginnya angin malam merambat lambat ke kusen jendela, menghembuskan uap air yang bercampur udara. Membelai nyamuk-nyamuk kurus dan juga pipiku. Ya, pipiku.
Untukmu yang disitu, kapan kesini?
Comments
Post a Comment