Skip to main content

Tidak

Apakah menurutmu malam ini terlalu sunyi untuk dilewati sendiri?
Setiap laut memiliki badainya sendiri, begitu juga dirimu. Bertahan ditengah tingginya gelombang mungkin sulit dilakukan, apalagi memutuskan melawan. Ada dua kemungkinan, tenggelam atau selamat hingga ke bibir pantai. Lalu kamu berpikir, jika mengikuti ombak saja bisa baik-baik saja kenapa harus mengambil resiko?
Dunia yang kelam selalu menyenangkan, tapi apakah menenangkan?
Dan kamu ingin bangun di siang hari, menutup malam sebagai masa lalu tapi bulan, bintang bahkan kegelapan mencibirmu. Cupu.
Akankah kau kembali? Atau melangkah pergi?
Ini tak semudah itu, katamu.
Adakah sesuatu yang mudah di dunia ini?
Alasan demi alasan kamu jabarkan, logika dan perasaan kau mainkan.
Apakah itu mengubah kenyataan?
Aku terluka di masalalu, ujarmu.
Aku akan menangis untukmu. Ikut merutuki ketidakadilan waktu. Namun, bisakah kau memaafkan masalalumu? Apakah ini wujud balas dendam? Sampai kapan?
Kau terdiam.

Tidak akan ada yang bisa memperjuangkanmu jika kau sendiri tidak memperjuangkan hidupmu.

Mereka menarikku, terus mencengkeramku, isakmu.
Kali ini aku yang diam. Aku tak bisa menawarkan tanganku, tapi aku akan memberikan do'aku.
Menengadahlah, dan semua akan baik-baik saja, dengan satu syarat.
Kamu punya niat!!

Mungkin sudah terlambat, bisikmu.
Tidak, tidak, tidak.

Tidaks


Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.