Masih belum pukul tujuh belas, entah mengapa waktu yang berlalu saat ini seperti wujud dari perlambatan teori relativitas. Aku bergerak maju, sedikit demi sedikit, meninggalkan bekas telapak kaki di pasir kali. Vernonia yang dulu ungu berbunga telah berganti dengan pakis-pakis tinggi, menebar bubuk spora ke udara yang lembab. Aku masih menelusuri jalan setapak, berhati-hati pada alga licin yang menyelimuti tanah. Aku pun harus bergegas, karena malam akan segera datang, menyelimuti hutan. Seharusnya aku tergesa-gesa, tapi nyatanya aku masih dengan perlahan berjalan.
Ya, perlahan.
Lalu datang elang berbulu putih dan hitam, terbang rendah mengitari tempatku berdiri. Lengkingannya membuatku takjub, bukan takut. Dia terus berputar-putar di atas kepalaku, seolah ingin mengatakan sesuatu namun aku tak mengerti apa. Aku terus memandanginya, tersenyum dan kagum.
Elang itu pergi, bersembunyi dari petang yang menjalar, meninggalkanku seorang diri.
Seorang diri.
Aku tak apa dengan gulita, berteman kunang-kunang dan angin. Kembali melewati pasir kali, alga yang licin dan pakis-pakis yang tinggi. Berharap tidak terpeleset.
Aku sudah kembali..
Comments
Post a Comment