Skip to main content

Lapar

Klotak-klotak bunyi air hujan menghantam atap seng penjual sate. Mobil dan motor lalu-lalang dengan pelan karena banyak genangan air disana sini. Tapi mungkin berkat hujan atau entah memang sedang dalam siklus larva, nyamuk-nyamuk yang biasa mangkal disini tak datang jadi aku bisa dengan tenang mengantri, meskipun tak terlalu tenang juga karena perut sudah agak lapar sementara antrian masih panjang. Aku memang tidak tahan lapar dan lagi aku tau rasanya kelaparan yang menjadi-jadi kemarin dulu, dulu sekali di tempat yang jauh sana. Karena itu aku semakin tidak suka dengan rasa lapar, karena rasa lapar kadang-kadang mengingatkanku pada masa waktu yang itu. Lapar dengan tidak ingin makan meskipun belum makan itu berbeda. Aku lapar dan aku ingin makan. Aku bersyukur kembali ke tempat yang dengan mudah aku bisa makan,  apa saja bahkan. Aku lebih bersyukur lagi bisa kembali kesini jika melihat orang-orang entah di negeri mana bahkan untuk minum saja kesusahan. Semoga mereka segera diberkahi dengan air dan makanan yang melimpah, karena aku tau rasa tidak enaknya menahan lapar. Oh ya, aku juga tidak terlalu suka ngemil, jika aku lapar aku hanya bisa diberi nasi atau sumber karbohidrat lain. Tidak mempan dengan biskuit-biskuit pengganjal perut atau snack pabrik apapun yang berglukosa tinggi, malah bikin sakit perut, entah!
Ah, hujan turun semakin deras disini. Bau potongan daging yang dibakar hanya samar-samar tercium padahal aku sudah duduk dekat tempat membakarnya, mungkin terbiaskan oleh bau hujan yang menenangkan. Mbak berkaos kuning dari tadi berdiri di dekat pak penjual sambil bersedekap tangan, entah kedinginan atau sikap mengomando, suruh cepat maksudnya. Hmm, dengan hujan sederas ini apa bisa aku pulang? Mungkin bisa tapi basah meskipun aku sudah membawa payung. Wah, ada lagi orang berkaos kuning, kali ini lebih gemuk dari sebelumnya.
Hujan terus turun diselingi suara halilintar yang keras saat aku berjalan pulang. Beberapa kali suara halilintar kembali menggelegar menjadikan minggu malam yang dingin semakin dingin. Selamat malam, selamat makan dan cepatlah tidur meski belum waktunya tidur.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.