Skip to main content

Perjalanan Sang Tardigrada

Sebagai Tardigadra yang suka ngemil daun stevia tapi gemuknya standar aja dan gak takut diabetes karena kata jurnal internasional kadar glikemiknya nol, menghadapi kekeringan dan kelaparan yang sedang melanda salah satu benua penghasil berlian kece ini pun Tardigrada hanya tinggal menggulung tubuhnya, selesai. Sebenarnya Tardigrada pengen juga ngajak Simba dan Ular Derik ngemil stevia, tapi selain dulu kala nyesepin steviol glikosida belum nge-trend, belum sederet sama aspartam atau pun si sakarin karena katanya penelitian belum memadai, ternyata si Simba maupun Ular Derik ini karnivora alias gak suka sayur!! Padahal Tardigrada sudah panjang lebar menjelaskan kalau daun berbulu halus yang manisnya 200-300 kali gula tebu ini asli bukan sayur, cuma cemilan yang enak dimasukin ke sirup tapi mereka tetep gak mau nyoba, ya sudah.
Dua hari kemudian kabarnya ada kebocoran pipa dari instalasi pembangkit tenaga nuklir. Ratusan ribu warga di evakuasi termasuk kucing-kucing dan jerapah yang tidur di kebun binatang. Kebetuan Tardigrada sedang business-trip ke sana, ceritanya sih nawarin produknya, ya si cemilan yang se-famili sama bunga krisan itu, dan gak sengaja gak ke angkut atau mungkin si Tardigrada sengaja gak mau desak-desakan naik truk besar bareng Kucing Anggora, ya sudah.
Kucing Anggora pun cerita ke jerapah kalau Tardigrada ini sudah terkontaminasi, jadi kayaknya perlu disterilisasi atau sekalian diisolasi, kadang kucing nyebelin juga ya, tapi gimana lagi mereka lucu sih. Tardigrada menolak disterilisasi pake lakohol 70% atau pun masuk ke ruang UV, lebih baik dikirim ke luar angkasa bareng bintang-bintang aja katanya kalau emang udah gak bisa tinggal bareng Simba karena takutnya Simba nanti ikut terkontaminasi, ya sudah.
Lima tahun kemudian Tradigrada siap lepas landas dari bumi, harusnya sih tahun lalu tapi dana pengadaan bahan bakarnya distop donatur jadi mesti nyari donatur baru. Karena cadangan sale gas di Amerika masih banyak jadi donatur yang lama lanjut lagi ngasih biaya, gak tau hubungannya apa pokoknya Tardigrada mau ke luar angkasa secepatnya, ya sudah.
Tardigrada sempet takut waktu melihat gesekan yang kuat antar udara dan lambung kapal, untung tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, semua diinginkan oleh semua pihak, alhamdulillah. Sampai disana, eh ternyata pesawatnya tidak diprogram untuk mendarat di bulan, cuma diprogram untuk mengelilingi bulan, yah ini kan namanya php, Tardigrada pun terkena php, ya sudah.
Sepuluh tahun kemudian Tardigrada balik ke bumi numpang meteroid yang jatuh, sempet horor sih waktu percikan api keluar disana-sininya meteroid tapi nyatanya Tardigrada dengan selamat mendarat di padang Nevada. Tardigrada sih gak yakin juga itu nama tempatnya, tapi waktu lihat ada kain yang bentuknya mirip kaos bertuliskan Nevada yang di gantung di samping rumah si Tardigrada jadi yakin kalao daerah ini adalah salah satu tempat terkering di dunia. Ya meskipun ada rumput tumbuh disebelahnya sih, ya sudah.
Akhirnya Tardigrada reuni bareng Simba, Ular Derik dan Kucing Anggora, jerapah gak ikut karena lagi ngambek. Pas reuni eh semuanya pada nyemilin stevia, katanya manis deh, lah inikan bisnisnya si Tardigrada dulu kala. Tapi Tardigrada bahagia karena Simba dan Ular Derik akhirnya paham kalau cemilan asli Paraguay itu bukan sayur!!
Ya sudah.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.