Suara suara serangga malam bersahutan, mengisi kesunyian angin yang bergerak perlahan, menggoyangkan ranting kelengkeng. Sesekali, langit hitam bersemburat merah dan kuning, membentuk bunga-bunga unsur kimia diikuti suara tak merdu yang terus berulang. Suara itu bercampur dengan suara-suaramu mengetuk jendela kamarku. Menjelma menjadi lebah madu yang masuk lewat celah kusen dan diam-diam bersarang sesukamu. Aku baru tau itu kemarin lalu. Menyisakan dilema rasa antara menunggu adanya madu atau tak ada apa-apa.
Lalu seekor kucing hitam mengeong halus, menuntunku membuka jendela, matanya yang hitam seolah bersinar dikegelapan. Tapi aku hanya sekilas memandangnya karena bulan dilangit sana lebih bercahaya. Bulan, sang penarik ombak lautan, bertengger anggun di atas pegunungan menyanyikan lagu syahdu lewat bisikan malam. Bulan masih separuhnya separuh. Cahayanya belumlah terpantul sempurna, tapi kita semua tau dia akan sempurna. Kita tak semua peduli, buat apa juga kan ya?
Jika kau tak suka prosa dan sejenisnya tak apa, asal gak suka sejenis aja. Eh...
Bulan dan sejenisnya, semuanya sama, sama sama batu!
Malam yang dingin melelapkan pemimpi, meninabobokan pengelana, menyayat jantung para perindu. Aku selalulah yang pertama, engkau yang mana?
Comments
Post a Comment