Skip to main content

Bulan separuhnya separuh

Suara suara serangga malam bersahutan, mengisi kesunyian angin yang bergerak perlahan, menggoyangkan ranting kelengkeng. Sesekali, langit hitam bersemburat merah dan kuning, membentuk bunga-bunga unsur kimia diikuti suara tak merdu yang terus berulang. Suara itu bercampur dengan suara-suaramu mengetuk jendela kamarku. Menjelma menjadi lebah madu yang masuk lewat celah kusen dan diam-diam bersarang sesukamu. Aku baru tau itu kemarin lalu. Menyisakan dilema rasa antara menunggu adanya madu atau tak ada apa-apa.
Lalu seekor kucing hitam mengeong halus, menuntunku membuka jendela, matanya yang hitam seolah bersinar dikegelapan. Tapi aku hanya sekilas memandangnya karena bulan dilangit sana lebih bercahaya. Bulan, sang penarik ombak lautan, bertengger anggun di atas pegunungan menyanyikan lagu syahdu lewat bisikan malam. Bulan masih separuhnya separuh. Cahayanya belumlah terpantul sempurna, tapi kita semua tau dia akan sempurna. Kita tak semua peduli, buat apa juga kan ya? 
Jika kau tak suka prosa dan sejenisnya tak apa, asal gak suka sejenis aja. Eh... 
Bulan dan sejenisnya, semuanya sama, sama sama batu! 
Malam yang dingin melelapkan pemimpi, meninabobokan pengelana, menyayat jantung para perindu. Aku selalulah yang pertama, engkau yang mana?

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.