Kemarin malam aku bermimpi naik kereta, jauh sekali perjalanan yang ku tempuh. Aku melewati gunung, sawah, hutan, pasar dan jalanan yang lengang. Mungkin saja aku melewati rumahmu, tapi sayangnya mimpiku bukan tetang dirimu jadi tak apa aku melewatkan bagian itu.
Di dalam kereta tak banyak penumpang yang saling berbicara, aku bahkan tak bisa melihat dengan jelas wajah mereka, sepertinya bukan karena aku tak pakai kacamata - aku tidur memang tidak pakai kacamata jadi mungkin sekali pas bermimpi kacamataku tak terbawa-, tapi karena memang mimpi itu bukan tentang mereka.
Aku berjalan menyusuri gerbong dari gerbong depan ke gerbong belakang. Rasanya semua yang kulihat menjadi abu-abu. Tak ada pemandangan dijendela, hanya gelap gulita dengan semburat putih yang ikut berlarian. Beberapa kursi yang ku lewati tampak kosong. Rasanya aku juga tak mendengar apa-apa. Bukankah suara kereta api akan terasa semakin keras saat malam hari? Ah, tapi aku tidak yakin latar waktu mimpiku, entah memang masih malam, atau sedang gerhana bulan atau bisa juga sedang melewati lorong yang panjang.
Aku lupa bagian akhir dari mimpi itu, yang terasa mimpi itu sangatlah lama. Seperti sebuah perjalanan yang asing dengan orang-orang yang tak dikenal. Jauh sekali. Tak ada dirimu juga.
Aneh ya?
Aku memimpikannya lebih dari sekali. Apa malam ini juga?
Saat ini kantuk mulai menjalar ke punggung belakang, kelopak mata pun mulai terasa berbeda. Aku akan tertidur sebentar lagi. Aku tidak mau bermimpi yang itu lagi. Aku maunya bermimpi tentang kamu tapi kamunya gak mau. Ha! Lucu.
Comments
Post a Comment