Skip to main content

Mimpiku kemarin malam

Kemarin malam aku bermimpi naik kereta, jauh sekali perjalanan yang ku tempuh. Aku melewati gunung, sawah, hutan, pasar dan jalanan yang lengang. Mungkin saja aku melewati rumahmu, tapi sayangnya mimpiku bukan tetang dirimu jadi tak apa aku melewatkan bagian itu.
Di dalam kereta tak banyak penumpang yang saling berbicara, aku bahkan tak bisa melihat dengan jelas wajah mereka, sepertinya bukan karena aku tak pakai kacamata - aku tidur memang tidak pakai kacamata jadi mungkin sekali pas bermimpi kacamataku tak terbawa-, tapi karena memang mimpi itu bukan tentang mereka.
Aku berjalan menyusuri gerbong dari gerbong depan ke gerbong belakang. Rasanya semua yang kulihat menjadi abu-abu. Tak ada pemandangan dijendela, hanya gelap gulita dengan semburat putih yang ikut berlarian. Beberapa kursi yang ku lewati tampak kosong. Rasanya aku juga tak mendengar apa-apa. Bukankah suara kereta api akan terasa semakin keras saat malam hari? Ah, tapi aku tidak yakin latar waktu mimpiku, entah memang masih malam, atau sedang gerhana bulan atau bisa juga sedang melewati lorong yang panjang.
Aku lupa bagian akhir dari mimpi itu, yang terasa mimpi itu sangatlah lama. Seperti sebuah perjalanan yang asing dengan orang-orang yang tak dikenal. Jauh sekali. Tak ada dirimu juga.

Aneh ya? 
Aku memimpikannya lebih dari sekali. Apa malam ini juga? 

Saat ini kantuk mulai menjalar ke punggung belakang, kelopak mata pun mulai terasa berbeda. Aku akan tertidur sebentar lagi. Aku tidak mau bermimpi yang itu lagi. Aku maunya bermimpi tentang kamu tapi kamunya gak mau. Ha! Lucu. 


Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.