Skip to main content

Kemarau

Hujan belum datang. Ranting-ranting flamboyan masih tertutup daun-daun majemuk, meneduhkan rumput gajah. Menengadah pada matahari yang panas seperti menantang udara siang, membangunkan melanin yang tertidur.
Partikel-partikel debu ikut bersatu dengan angin yang berhembus dari arah utara, menciptakan dersik. Suara itu seperti nyanyian musim panas yang menggoyangkan belalang sembah hijau. Kumpulan kupu-kupu kuning kehijauan terlihat berkejar-kejaran di tepi sungai batu.
Kemarau ini adalah musim yang harus dilewati, tanpa gugurnya daun jati, juga tanpa mengeringnya pucuk-pucuk meranti. Diikuti lalat buah yang telah bertelur di dalam buah pepaya.
Rasanya tak ada yang kurang dengan padang ini, bahkan kunang-kunang jantan sudah bersiap menunggu senja untuk menarik hati para pujaannya.

Lalu,
kaukah itu? Berdiri termangu ditengah ilalang sendu. Merapal doa yang tak pernah ku tahu. Menatap gamang jajaran bukit berwarna cokelat, seolah sebentar lagi dirimu akan turut menguap bersama tetes embun terakhir.

Matahari, jangan kau sinari dia yang sedang berdiri. Panasmu tak cukup kuat untuk membakar hatinya.
Angin, jangan kau kirimkan topan pada dia yang sedang berdoa karena pusarannya tak cukup kuat untuk menggoyah tekadnya.
Flamboyan, julurkanlah cabangmu, naungi kekasih hatiku yang sedang kelu. Meski bayanganmu tak berarti untuknya, lakukan saja agar dia tau semua akan baik-baik saja.

Musim hujan pastilah segera datang sayang, jangan ragukan sang alam. Jika pun tak pernah datang maka masih ada tanganku yang akan setia menggenggam jemarimu.

Kemarau ini akan segera berlalu.
Tapi aku kekasihku..
tak akan bisa berlalu darimu,
sebelum engkau sendiri yang mengusirku.

Paham? :)




Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.