Hujan belum datang. Ranting-ranting flamboyan masih tertutup daun-daun majemuk, meneduhkan rumput gajah. Menengadah pada matahari yang panas seperti menantang udara siang, membangunkan melanin yang tertidur.
Partikel-partikel debu ikut bersatu dengan angin yang berhembus dari arah utara, menciptakan dersik. Suara itu seperti nyanyian musim panas yang menggoyangkan belalang sembah hijau. Kumpulan kupu-kupu kuning kehijauan terlihat berkejar-kejaran di tepi sungai batu.
Kemarau ini adalah musim yang harus dilewati, tanpa gugurnya daun jati, juga tanpa mengeringnya pucuk-pucuk meranti. Diikuti lalat buah yang telah bertelur di dalam buah pepaya.
Rasanya tak ada yang kurang dengan padang ini, bahkan kunang-kunang jantan sudah bersiap menunggu senja untuk menarik hati para pujaannya.
Lalu,
kaukah itu? Berdiri termangu ditengah ilalang sendu. Merapal doa yang tak pernah ku tahu. Menatap gamang jajaran bukit berwarna cokelat, seolah sebentar lagi dirimu akan turut menguap bersama tetes embun terakhir.
Matahari, jangan kau sinari dia yang sedang berdiri. Panasmu tak cukup kuat untuk membakar hatinya.
Angin, jangan kau kirimkan topan pada dia yang sedang berdoa karena pusarannya tak cukup kuat untuk menggoyah tekadnya.
Flamboyan, julurkanlah cabangmu, naungi kekasih hatiku yang sedang kelu. Meski bayanganmu tak berarti untuknya, lakukan saja agar dia tau semua akan baik-baik saja.
Musim hujan pastilah segera datang sayang, jangan ragukan sang alam. Jika pun tak pernah datang maka masih ada tanganku yang akan setia menggenggam jemarimu.
Kemarau ini akan segera berlalu.
Tapi aku kekasihku..
tak akan bisa berlalu darimu,
sebelum engkau sendiri yang mengusirku.
Paham? :)
Partikel-partikel debu ikut bersatu dengan angin yang berhembus dari arah utara, menciptakan dersik. Suara itu seperti nyanyian musim panas yang menggoyangkan belalang sembah hijau. Kumpulan kupu-kupu kuning kehijauan terlihat berkejar-kejaran di tepi sungai batu.
Kemarau ini adalah musim yang harus dilewati, tanpa gugurnya daun jati, juga tanpa mengeringnya pucuk-pucuk meranti. Diikuti lalat buah yang telah bertelur di dalam buah pepaya.
Rasanya tak ada yang kurang dengan padang ini, bahkan kunang-kunang jantan sudah bersiap menunggu senja untuk menarik hati para pujaannya.
Lalu,
kaukah itu? Berdiri termangu ditengah ilalang sendu. Merapal doa yang tak pernah ku tahu. Menatap gamang jajaran bukit berwarna cokelat, seolah sebentar lagi dirimu akan turut menguap bersama tetes embun terakhir.
Matahari, jangan kau sinari dia yang sedang berdiri. Panasmu tak cukup kuat untuk membakar hatinya.
Angin, jangan kau kirimkan topan pada dia yang sedang berdoa karena pusarannya tak cukup kuat untuk menggoyah tekadnya.
Flamboyan, julurkanlah cabangmu, naungi kekasih hatiku yang sedang kelu. Meski bayanganmu tak berarti untuknya, lakukan saja agar dia tau semua akan baik-baik saja.
Musim hujan pastilah segera datang sayang, jangan ragukan sang alam. Jika pun tak pernah datang maka masih ada tanganku yang akan setia menggenggam jemarimu.
Kemarau ini akan segera berlalu.
Tapi aku kekasihku..
tak akan bisa berlalu darimu,
sebelum engkau sendiri yang mengusirku.
Paham? :)
Comments
Post a Comment