Kau berpagar
terali besi tinggi berjajar
menghujam tanah yang ditumpuki batu gunung
mengaburkan pintu yang selalu terkunci.
Engkau, sang mulia yang berjubah satin, mendiami kastil megah dan terjaga. Gerbangnya dari pohon eek berusia ratusan tahun, diganjal besi besi hitam yang kokoh. Sedang pintumu berukir sempurna itu terkunci. Jendelamu berteralis rapat. Apakah engkau tak merasa dipenjara?
Jangan tuan, ku mohon jangan jawab ini dengan anggukan. Di luar sini jauh lebih mengerikan, banyak penyamun amatir yang tak berotak. Engkau bisa langsung tertusuk hanya karena mendelik. Tetaplah disana, tempat paling aman yang pernah ku percaya. Aku hanya iseng bertanya, berharap engkau murka lalu mengurungku disana.
Tidurlah yang nyeyak di bantal bulu angsa, tanpa tempias air hujan di ujung kakimu.
Comments
Post a Comment