Skip to main content

Bokeh

Terlahir dengan lensa mata yang tak mau berakomodasi sesukanya membuat saya melewatkan hal-hal kecil sejak masa kecil. Seperti bagaimana bentuk mata anda, seberapa lentik bulu mata anda atau berapa jerawat yang anda punya, apa warna kuku anda, bahkan noda di baju anda. Saya tidak akan ingat semua itu dari siapapun. Tidak akan. Sebaliknya saya tidak akan mudah lupa dengan hal-hal yang tak membutuhkan mata, seperti suara anda, cara anda menghadapi masalah, sikap anda, apa saja yang keluar dari mulut anda, hal-hal macam itu yang bisa anda tanyakan pada saya. Saya akan mengingat -sangat ingat- setiap suku katanya. Dan jika anda merasa saya sedang lupa mungkin saya hanya pura-pura lupa.
Bulan lalu saya baru menyadari satu hal pada mata saya yaitu bokeh. Ya benar, bokeh. Jika suatu objek (dalam kasus saya yang paling dekat) akan terlihat jelas dan lainnya buram nahhhhhh seperti itulah mata saya bekerja, persis. Saya rasa, itu tidak buruk juga, teknologi lensa mata saya sudah mampu mengeliminasi hal-hal tidak penting sehingga saya bisa fokus pada satu hal di depan saya. Bokeh juga merupakan tipe foto yang saya suka terutama pada objek non manusia.
Memiliki sifat yang bukan seperti malaikat (ramah, murah senyum, red.) membuat saya tidak terganggu dengan teknologi bokeh di mata saya, selain memang tidak terlalu tau itu siapa, apakah harus menyapa atau tidak, lebih jauh lagi saya sebenarnya tidak terlalu peduli dengan hal-hal semacam itu, karena saya merasa hubungan dengan manusia itu bukan soal sapa menyapa saja. It's okay buat saya untuk tidak say hi tahunan pada seseorang atau beberapa orang tapi itu bukan berarti hubungan menjadi renggang, yah asal memang tidak ada hal yang membuat renggang sebelumnya.
Bokeh membuat saya selalu melihat mahluk hidup dari sisi yang berbeda.
Lebih dari itu, hubungan antar manusia atau antar mahluk hidup dengan kekuatan lensa mata memang sangatlah krusial, melihat dari kondisi tersebut, anda bisa memastikan bahwa saya adalah orang berperasaan dengan logika maksimal dan pandangan fisik minimal. Intinya saya itu menyenangkan.

Seperti itu.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.