Skip to main content

Sudah saatnya

Mungkin sudah saatnya musim hujan melanda gang-gang kecil
Membuat basah kusen-kusen jendela
Membiakkan nyamuk-nyamuk hitam

Mungkin sudah saatnya sedikit air bah melanda jalan-jalan raya
Memperlambat laju motor dan mobil
Menggenang tepi-tepi aspal

Mungkin sudah saatnya penantian ini diganti sebuah perjalanan
Mencari sebelah rembulan
Mengakhiri sabit di malam-malam

Mungkin sudah saatnya masa depan adalah masa sekarang
Dan hari ini adalah hari-hari depan

Tapi sungguh sayang, 
Aku masih ingin merasakan petualangan
Petualang yang akan ramai
Yang bukan hanya aku dan tulisanku
Menyusuri hutan-hutan tak dikenal
Pulau-pulau yang terpetakan
Gedung-gedung berwarna merah dan kuning gading
Serta pohon-pohon sakura di Nagoya

Sore ini bawalah jaketmu
Lalu berdoalah
Kemudian temui aku

Hujan itu
Tempat kenangan berlarian
Juga masa depan yang terbuka lebar

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.