Skip to main content

Bertemu Kawan Kawan

Sore hari ini (atau kemarin karena nulisnya udah tegah malam) saya menembus macet dari pom bensin ngagel sampek wonokromo, entah berapa lampu merah yang sudah berganti tapi tetap saja masih kejebak macet. Hal tersebut untuk satu tujuan, bertemu kawan-kawan. Bukan hanya tentang siapa kawan saya tapi tentang apa yang saya dapat dari mereka, itu point pentingnya. Saya datang memang telat banget, karena saya lupa dan akhirnya melakukan kegiatan lain, untung saja masih kekejar untuk bertemu.
Selalu ada hal menarik yang dapat disimak dari pertemuan kami, seringnya saya datang dengan membawa pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya temukan jawabannya tapi justru kawan saya tersebut menjawabnya dengan istilahnya biasa, anehnya saya langsung setuju dan kalau dipikir-pikir memang benar. Ternyata juga ada kejutan yang menanti, ada kawan lain yang bergabung dan saya sudah mengenalnya karena memang satu kelas.
Ehmm, saya akui saya berbeda dalam suatu hal -yang tidak saya sebutkan- saat saya bersama dengan kawan-kawan ini. Biasanya dalam kehidupan sehari-hari jarang sekali saya melakukan hal berbeda tersebut. Nah, kawan yang baru ini adalah kawan lama yang tahu menahu saya -dari luar yah penampilan lah. Saya sedikit penasaran dengan anggapan kawan saya ini tentang diri saya, bukan bermaksud berburuk sangka saya ingin tau bilamana mungkin dapat menjadi masukan berarti bagi saya. Sebenarnya tidak perlu masukan saya sudah tau, kadang juga timbul risih di hati, risih dengan diri sendiri, apalagi kalau dijalan ketemu dengan orang-orang macam kawan saya ini.
Menurut saya, kawan-kawan inilah kawan terbaik dibandingkan sebelum-sebelumnya, bukan berarti yang sebelumnya tidak baik, karena kawan-kawan saya ini teguh memegang janji dan daya juangnya tinggi. Salut deh. Jadinya saya sendiri ikut tergerak untuk selalu datang-datang dan datang, plus kawan ini ramah, friendly banget. Kawan-kawan ini langsung merubah pandangan saya tentang orang-orang 'seperti' ini.
Kesimpulan yang didapat dari bertemu kawan-kawan: keyakinan pada hati kita akan muncul jika kita berani mengambil keputusan yang resikonya bisa saja selamanya, seumur hidup, dunia akhirat.
Tips: agar keberaniaan pengambilan keputusan ini tidak salah sasaran maka akrablah dengan yang memegang hati kita.
Cucucucucuucucucucucucu, oke deh saat nya istirahat (padahal baru bangun tidur) besok mesti ngerjain revisi tinggal 15 hari lagi. Keep fight :D

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.