Mendung gelap bergelayut manja dilangit meneriaki bumi yang meranggas,
Hei bumi, bersiaplah aku akan menumpahkan apa yang harus aku tumpahkan.
Wahai mendung yang menghias langit tidakkah kau lihat apa yang ada di atasku, bunga-bunga layu, daun-daun mengering, hewan-hewan menderita dan manusia-manusia dengan wajah lusuhnya terus menerus menggerogotiku. Jika engkau menumpahkan apa yang harus kau tumpahkan maka bunga, daun dan hewan akan sangat bergembira bukan hanya mereka kembali hidup tapi juga karena melihat manusia-manusia itu tenggelam. Meski itu pantas untuk mereka wahai mendung yang gelap tapi aku sungguh tak tega.
Lalu apa yang kau inginkan hei bumi yang bimbang?
Tumpahkan barang sedikit saja karunia yang diberikan padamu, tak perlu berlebih wahai mendung yang bijak.
Hei bumi, tidakkah kau tau segala sesuatu telah memiliki ukurannya, kecuali manusia-manusia lusuhmu itu yang tak pernah mengenal batas-batas alam. Haruskah menyalahi aturan alam untuk mereka? Tidakkah itu menghinakan diriku bumi?
Aku tau wahai mendung yang baik, aku tau. Aku hanya tidak tega.
Biarkanlah mereka hei bumi, bukankah mereka telah menggerogoti tubuhmu? Mencabuti pohon-pohonmu? Dan menumpahkan darah-darah tak berdosa diatas tubuhmu?
Bumi terdiam.
Comments
Post a Comment