Skip to main content

Sang Bumi

Mendung gelap bergelayut manja dilangit meneriaki bumi yang meranggas,
Hei bumi, bersiaplah aku akan menumpahkan apa yang harus aku tumpahkan.
Wahai mendung yang menghias langit tidakkah kau lihat apa yang ada di atasku, bunga-bunga layu, daun-daun mengering, hewan-hewan menderita dan manusia-manusia dengan wajah lusuhnya terus menerus menggerogotiku. Jika engkau menumpahkan apa yang harus kau tumpahkan maka bunga, daun dan hewan akan sangat bergembira bukan hanya mereka kembali hidup tapi juga karena melihat manusia-manusia itu tenggelam. Meski itu pantas untuk mereka wahai mendung yang gelap tapi aku sungguh tak tega.
Lalu apa yang kau inginkan hei bumi yang bimbang?
Tumpahkan barang sedikit saja karunia yang diberikan padamu, tak perlu berlebih wahai mendung yang bijak.
Hei bumi, tidakkah kau tau segala sesuatu telah memiliki ukurannya, kecuali manusia-manusia lusuhmu itu yang tak pernah mengenal batas-batas alam. Haruskah menyalahi aturan alam untuk mereka? Tidakkah itu menghinakan diriku bumi?
Aku tau wahai mendung yang baik, aku tau. Aku hanya tidak tega.
Biarkanlah mereka hei bumi, bukankah mereka telah menggerogoti tubuhmu? Mencabuti pohon-pohonmu? Dan menumpahkan darah-darah tak berdosa diatas tubuhmu?

Bumi terdiam.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.