Jejak-jejak langkahmu tertinggal di lumpur yang coklat pagi ini, menuntunku selalu, selalu selangkah mendekatimu. Jejakmu menyusuri tepian padang ilalang berwarna merah marun, menghindari bunga-bunga vernonia ungu kecil di tepian jalan. Aku terus menyusuri langkahmu, tapi semakin jauh aku melangkah semakin banyak yang ku temukan seperti
ternyata malam datang bukan saat bintang telah benderang di langit, ternyata setitik embun bukanlah air mata alam yang menangisi kepergian malam dan ternyata aku tak lagi menyusuri jejakmu. Ternyata aku sudah tak peduli lagi apakah aku selangkah mendekatimu atau menjauhimu.
Aku berjalan mengikuti hembusan angin, mengikuti arah terbangnya nektar-nektar bunga agave. Entah, entahlah jika ternyata kita menempuh jalan yang sama, menuju tempat yang tiada berbeda.
Seikat krisan putih yang kau bawa bisa saja layu di tengah jalan, bisa saja kau membuangnya menggantinya dengan bunga mawar yang merah merona. Bisa saja, mungkin.
Mungkin aku tak lagi mengharapkan seikat bunga krisan dan mungkin aku tak lagi berdiri menanti. Mungkin aku akan berjalan untuk menemukan taman bunga krisan putih yang indah, lebih indah dari gugurnya sang bunga flamboyan. Bisa saja.
Comments
Post a Comment