Skip to main content

Mungkin Bisa Saja Terjadi

Jejak-jejak langkahmu tertinggal di lumpur yang coklat pagi ini, menuntunku selalu, selalu selangkah mendekatimu. Jejakmu menyusuri tepian padang ilalang berwarna merah marun, menghindari bunga-bunga vernonia ungu kecil di tepian jalan. Aku terus menyusuri langkahmu, tapi semakin jauh aku melangkah semakin banyak yang ku temukan seperti
ternyata malam datang bukan saat bintang telah benderang di langit, ternyata setitik embun bukanlah air mata alam yang menangisi kepergian malam dan ternyata aku tak lagi menyusuri jejakmu. Ternyata aku sudah tak peduli lagi apakah aku selangkah mendekatimu atau menjauhimu.
Aku berjalan mengikuti hembusan angin, mengikuti arah terbangnya nektar-nektar bunga agave. Entah, entahlah jika ternyata kita menempuh jalan yang sama, menuju tempat yang tiada berbeda.
Seikat krisan putih yang kau bawa bisa saja layu di tengah jalan, bisa saja kau membuangnya menggantinya dengan bunga mawar yang merah merona. Bisa saja, mungkin.
Mungkin aku tak lagi mengharapkan seikat bunga krisan dan mungkin aku tak lagi berdiri menanti. Mungkin aku akan berjalan untuk menemukan taman bunga krisan putih yang indah, lebih indah dari gugurnya sang bunga flamboyan. Bisa saja.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.