Skip to main content

Bahagia

Aku menemukan bahwa hidup ini terus berjalan. Seperti malam yang kadang tak berbintang atau seperti siang yang dilanda hujan. Mengeluhkan luka tak akan menyembuhkannya, menangisi kemarau tak akan menyuburkannya. Jadi untuk apa terus terkurung dalam rasa yang menyedihkan kalau kita bisa berdiri dan menghadapinya?
Aku menemukan kenyataan bahwa di luar sana ada orang yang sangat menginginkan berada di posisi kita sekarang, menganggap apa yang kita lalui adalah segalanya, adalah luar biasa. Mungkin mereka benar, mungkin yang kita lalui ini memang luar biasa, tanpa mereka tau luar biasa menyakitkannya, luar biasa terlukanya, luar biasa segalanya. Tapi mereka memang tidak perlu tau. Karena kita memang luar biasa, karena akan menjadi luar biasa saat kita mampu melalui segalanya sehingga yang tampak hanyalah rasa bahagia. Bukankah itu luar biasa?

Berhenti meratap, karena aku bukan pecundang. Aku akan bahagia, entah mereka suka atau tidak suka, yang jelas aku memilih bahagia dan menikmatinya...
Purnama, jadilah saksi untuk keenam kali berikutnya, bahwasannya hari-hari yang akan datang pastilah berbeda :)

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.