Daun-daun flamboyan masih menghijau, menari-nari kecil ditiup sang angin. Terlena oleh matahari yang hangat. Polong hitamnya belum berkuncup, menandakan musim hujan belum akan datang. Tapi itu dulu sayang, sebelum gas rumah kaca berlarian ke awan. Itu dulu, sebelum timbal dan monooksida berdansa dengan udara. Sangat dulu.
Kemarin, hujan turun membasahi jalan. Menyuburkan rerumputan ditepian. Padahal, bunga flamboyan belum lagi bermekaran sayang. Musim kini tak menentu, seperti hatimu. Musim kini cepat berganti dan berlalu, seperti perasaanmu. Tapi tak apa sayang, karena sepertinya hatiku pun begitu, juga perasaanku. Musim ini sayang, musim yang tak ditunggu. Musim ini, musim yang tersendu.
Comments
Post a Comment