Nyanyian ilalang semakin sayup, hanya dersik yang mengusik, menyamarkan gesekan sayap belalang. Memandang langit dengan awan yang berjalan dan sekilas melirik wajahmu. Ku lihat lekat-lekat, lamat-lamat lensa mataku mengabur, meneruskan pantulan cahaya yang tak sempurna. Aku mencoba akomodasi sebisanya tapi dirimu malah tak ada. Aku kembali memandang angkasa, menerawang masa yang entah hilang atau terlewatkan. Memaklumi angin yang membawamu pergi, atau malah angin belum pernah membawamu kemari.
Bukan salah pagi jika yang terlihat hanyalah sepi, bukan salah rerumputan jika vernonia tak ingin berkembang. Tidak ada yang salah di dunia ini, maka jika itu terjadi tak akan mengakhiri apapun. Kecuali dirimu.
Ilalang masih terus bernyanyi, menandakan kemarau masih terus melanda hati. Aku tidak mengharap musim hujan sayang, karena air hanya akan membasahiku. Tidak dirimu.
Dersik berbisik, dandelion mengangguk, lebah berlalu dan engkau yang parau.
Comments
Post a Comment