Tiba-tiba hujan turun dihatimu. Membanjiri luka yang menganga, membasahi rindu yang berdebu dan merasuk ke akar cintamu. Lalu harimu yang sendu tak lagi kelabu, segalanya meraki. Tapi, itukah sesungguhnya dirimu?
Diam-diam dan perlahan kau undang sang mendung lagi untuk menutupi mawar dan krisan yang sedang bersemi. Kau tanam semak peniti yang tinggi. Namun, akankah kau terus begitu?
Hari-hari yang dulu tak akan kembali, meski kau telah membingkainya dengan rapi. Membiarkan bunga berguguran hingga kau meratapi sebuah kepergian. Jadi, masihkah kau terdiam?
Dirimu kesepian, menangis sendirian, napasmu sesak. Dengarlah sayang, matahari pun sendiri, membakar tubuhnya hingga pasi. Tapi perasaan adalah sebuah perasaan. Bunuhlah pelan-pelan atau katakan pada sang malam.
Dan, cinta bukanlah segalanya...
Comments
Post a Comment