Malam ini seperti tak berujung, setiap kelipnya membuatku tertahan, sedikit terbawa suasana. Malam ini seperti sebuah perjalanan, yang membuatku tertawa dan menertawai sebuah tangisan. Teruntuk lilin-lilin kecil yang pernah menerangi malamku dan meninggalkanku di tengah kegelapan, terima kasih atas waktu dan sumbu yang telah terbakar demi menghabiskan kesunyian bersamaku. Meskipun akhirnya sinarmu berlalu, namun kehangatanmu makin memperkokoh hatiku.
Wahai api yang tak kunjung membara, lilin-lilin kecil ini terus berlarian menghampiriku. Jika satu mati, maka akan menyala satu lagi, begitu terus berganti. Aku gusar jika pagi tergesa datang, dan api mu tak kunjung ku temukan maka bisa jadi lilin-lilin kecil itu yang akan menggantikanmu.
Wahai lilin-lilin kecil, teruslah begitu. Berpura-puralah seolah malam baru saja dimulai sehingga kebersamaan kita akan terasa lama, temani aku hingga api itu benar-benar ada.
Ah ya, aku lupa. Ternyata api itu aku sendiri. Mungkin saja akulah yang membuat lilin-lilin kecil itu menyala. Dengan sengaja. Atau tidak.
Lalu, jika aku adalah api, apa yang aku tunggu??Oksigen.
Hey, oksigen sampai kapan kau begitu? Engkau pikir ini ruang hampa udara??
Selamat malam lilin-lilin kecil, jangan bermimpi, kecuali itu aku.
Comments
Post a Comment