Skip to main content

Lilin kecil

Malam ini seperti tak berujung, setiap kelipnya membuatku tertahan, sedikit terbawa suasana. Malam ini seperti sebuah perjalanan, yang membuatku tertawa dan menertawai sebuah tangisan. Teruntuk lilin-lilin kecil yang pernah menerangi malamku dan meninggalkanku di tengah kegelapan, terima kasih atas waktu dan sumbu yang telah terbakar demi menghabiskan kesunyian bersamaku. Meskipun akhirnya sinarmu berlalu, namun kehangatanmu makin memperkokoh hatiku.
Wahai api yang tak kunjung membara, lilin-lilin kecil ini terus berlarian menghampiriku. Jika satu mati, maka akan menyala satu lagi, begitu terus berganti. Aku gusar jika pagi tergesa datang, dan api mu tak kunjung ku temukan maka bisa jadi lilin-lilin kecil itu yang akan menggantikanmu.
Wahai lilin-lilin kecil, teruslah begitu. Berpura-puralah seolah malam baru saja dimulai sehingga kebersamaan kita akan terasa lama, temani aku hingga api itu benar-benar ada.

Ah ya, aku lupa. Ternyata api itu aku sendiri. Mungkin saja akulah yang membuat lilin-lilin kecil itu menyala. Dengan sengaja. Atau tidak.
Lalu, jika aku adalah api, apa yang aku tunggu??
Oksigen.

Hey, oksigen sampai kapan kau begitu? Engkau pikir ini ruang hampa udara??


Selamat malam lilin-lilin kecil, jangan bermimpi, kecuali itu aku.


Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.