Setiap bangunan menyimpan sebuah kenangan. Ia adalah saksi bisu betapa cepatnya manusia melewati waktu, dimana kisah mereka berceceran di lantai, tembok, kusen dan pintu. Setiap kenangan bersemayam dalam relung ruang yang paling dalam, namun bisa terjaga begitu saja saat seseorang mengunjunginya. Kenangan menjadi palu, mengetuk-ngetuk hati di masalalu. Bangunan yang dari dulu begitu seolah menjadi kelabu, menyisakan langit-langit gelap tanpa lampu. Sang waktu seolah tau, dia melesat cepat membawamu pada kenyataan baru, mengenalkan hal-hal asing yang lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan lambat laun berubah kembali menjadi kenangan.
Setiap kenangan tersimpan di sebuah bangunan. Menyisakan cat yang terkelupas dan sarang laba-laba. Tak ada saksi yang perlu dicari, karena dia akan dan semoga tetap kokoh berdiri.
Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...
Comments
Post a Comment