Skip to main content
Nyanyian Mawar

   Musim gugur. Pohon-pohon meranggas, menanggalkan daun hijaunya dan membiarkan ujung-ujung cabang dan ranting menjulang sendirian, beberapa pohon menyisakan gerombolan bunga-bunga indah berwarna merah, kuning dan merah muda.
  Sang mawar terdiam, mahkotanya memucat dan benang sari mengering. Angin sore berhembus perlahan menggoyangkan pucuk tanaman, juga sang mawar. Angin terus bertiup seolah menarik mahkota sang mawar satu persatu untuk mengajaknya sedikit bertualang menjauh dari sang mawar dan menjatuhkannya disembarang tempat, sesuka angin berhembus,
   Maka sang mawar telah berguru pada musim, tak menyalahkan angin dan mencoba mencintai tanah. Sang mawar mungkin tak dapat melihat purnama yang penuh, bintang yang gemerlap, matahari yang tak pernah lelah bersinar, namun sang mawar tak pernah menyesal meski sedikit demi sedikit helaian mahkotanya mengering.
   Sang mawar bukan menderita, hanya berakhir. Setiap awal selalu diikuti akhir, awal terasa sulit dan akhir selalu terasa menyesakkan seolah segala kejadian antara awal dan akhir tiada teringat, tiada berguna. Seperti halnya sebuah perasaan, itu akan terasa segalanya, juga akan terasa menyiksa. Berlalu.

Maka kita yang jatuh cinta akan menderita 
Lebih dalam dari ratap para rahib
Lebih dingin dari nyayian mawar
Di musim kering
- Faisal Komandobat

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.