Nyanyian Mawar
Musim gugur. Pohon-pohon meranggas, menanggalkan daun hijaunya dan membiarkan ujung-ujung cabang dan ranting menjulang sendirian, beberapa pohon menyisakan gerombolan bunga-bunga indah berwarna merah, kuning dan merah muda.
Sang mawar terdiam, mahkotanya memucat dan benang sari mengering. Angin sore berhembus perlahan menggoyangkan pucuk tanaman, juga sang mawar. Angin terus bertiup seolah menarik mahkota sang mawar satu persatu untuk mengajaknya sedikit bertualang menjauh dari sang mawar dan menjatuhkannya disembarang tempat, sesuka angin berhembus,
Maka sang mawar telah berguru pada musim, tak menyalahkan angin dan mencoba mencintai tanah. Sang mawar mungkin tak dapat melihat purnama yang penuh, bintang yang gemerlap, matahari yang tak pernah lelah bersinar, namun sang mawar tak pernah menyesal meski sedikit demi sedikit helaian mahkotanya mengering.
Sang mawar bukan menderita, hanya berakhir. Setiap awal selalu diikuti akhir, awal terasa sulit dan akhir selalu terasa menyesakkan seolah segala kejadian antara awal dan akhir tiada teringat, tiada berguna. Seperti halnya sebuah perasaan, itu akan terasa segalanya, juga akan terasa menyiksa. Berlalu.
Maka kita yang jatuh cinta akan menderita
Lebih dalam dari ratap para rahib
Lebih dingin dari nyayian mawar
Di musim kering
- Faisal Komandobat
Comments
Post a Comment