Skip to main content

SKRIPSWEET


  Sudah hampir dua bulan aku mengerjakan pengambilan data skripsi di lab, berdasarkan bab 3 ku seharusnya minggu depan aku sudah dapat mengakhiri ini dengan memperoleh hasilnya, tapi sayang seribu sayang sampel dataku tidak sebagus saat uji pendahuluan bahkan lebih parah lagi jika aku mampu menyebutnya agak gagal. Hasil yang kuperoleh tidak sesuai dengan harapan, Itu bisa saja sebagai pertanda aku harus mengulangnya kembali padahal ini sudah bulan Oktober dan Desember adalah bulan terakhir sidang jika aku ingin lulus bulan maret.
   Oh ya perkenalakan aku seorang mahasiswi jurusan biologi di salah satu universitas negeri, sekarang aku sedang menjalani semester paling kritis, semester sangat akhir dan aku sedang mengerjakan skripsiku. Rasanya aku hampir gila dan kelihatannya aku memang benar-benar sudah gila karena lebih dari sebulan aku tidak mengerjakan apa-apa selain pengamatan! Aku tidak ingin mengulang mengambil data, tapi data yang ku peroleh memang tidak sesuai harapan, Hmmmmm.... hidup sedang berat kawan.
Rencanayan esok hari aku akan menghadap dosen dan memperlihatkan foto-foto sampel dari dataku, ahh sungguh sangat mendebarkan.
  Kata mbak-mbak kost, kehidupan yang sebenarnya baru akan kamu rasakan saat sudah di wisuda, skripsian itu masih enak karena kamu masih mahasiswa. Oke, mereka dapat berpikiran begitu karena mereka sudah lulus coba kalau masih kayak aku gini pasti pusing. Sudahlah tikdak usah dipikirkan yang terlalu jauh, fokus saja pada skripsi. Ohhhhh, aku harus bilang apa pada orangtuaku bray.

Sampel data skripsiku bray, ini yang pecah karena kesenggol
   Hmmm, sebenarnya tidak semua dataku jelek sih, jadi data ku ada dua jenis, yang satunya siih bagus, T.O.P, sesuai! Tapi yang satunya agak meragukan. Aku jadi agak menyesal kenapa dulu aku iya iyo wae disuruh ngambil data 2 jenis sama pembimbingku, haduh gak penting pisan kalu udah satu harusnya cukup, prikitiuw ancen.
Yahh bro nasi telah menjadi bubur dan tukang bubur udah jadi haji, dari pada menyesali masa lalu mending ngerjain revisi, ahahaha.
  Segini aja deh bro coretan curhatan hari ini, semoga esok hari lebih baik,, ahahaha

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.