Skip to main content
SANG MAWAR
      Suatu hari sang bunga mawar sedang mekar merah merekah menyala menyilaukan si bunga melati kecil yang ada disebelahnya. Bunga mawar itu sangat gembira karena dapat menatap langit biru luas tanpa batas berhias awan-awan putih, dapat menikmati gemerlapnya malam karena kerlip bintang yang mencoba menyaingi rembulan, sang mawar juga sangat bersemangat saat tetes-tetes air hujan membasahi kelopaknya yang lembut menghujam keras namun tak sedikit pun melukai sang mawar malah menyegarkan dan menghilangkan debu-debu yang menempel pada lembaran mahkotanya yang indah.
      Suatu sore yang cerah seorang anak perempuan bermabut ikal berjalan-jalan dan melewati sang bunga mawar, karena sangat tertarik dengan mawar itu maka anak perempuan itu ingin memetiknya. Dengan semangat tangan anak perempuan itu meraih tangkai mawar itu namun duri-duri tajam sang mawar segera menusuk kulit anak perempuan itu, karena kaget anak perempuan berambut ikal tersebut melepaskan tangkai sang mawar dan melihat tangannya yang berdarah karena tertusuk duri sang mawar lalu anak perempuan tersebut berlari pulang sambil menangis.
       Maka sang mawar bertambah merah warnanya sehingga berwarna merah tua, sang mawar pun heran dia mengira darah anak perempuan berambut ikal tersebut yang membuat warna mahkotanya semakin merah.
Merahnya mawar karena darah orang-orang yang tertusuk oleh durinya
     Si melati putih kecil melihat segalanya kecuali perasaan dan pikiran sang mawar. Si melati diam, dia merasa tidak harus mengatakan sesuatu dan hari-hari pun berlangsung seperti biasa.
Malam ini, si melati putih kecil sangat gembira karena hampir seluruh bunga melati di pohon itu mekar, melati-melati putih menciptakan wewangian alam yang harum membuat malam berpunama semakin syahdu. Wanginya semerbak memenuhi sekitarnya hingga tercium sang mawar yang sedang menatap langit malam. Mawar berkata,
Hei melati, kau tidak akan bisa sepertiku! Aku memiliki mahkota yang semerah darah, duri yang tajam dan aku lebih besar darimu!
 Si melati putih kecil menyahut,
Wahai sang mawar, apakah kau tidak melihat bukit di ujung jalan sana? Bisakah sebentar saja kau perhatikan apa yang ada di atas tanah pada bukit itu? Apa kau bisa melihatnya?
Aku bisa melukai seseorang dengan duriku hei melati kecil, sehingga darah merahnya keluar menetes pada akarku.
 Lihatlah sebentar wahai sang mawar yang merah, katakan padaku apa yang ada disana?
 Sang mawar diam. Mahkotanya tegak menghadap purnama.
Disana ada aku dan dirimu wahai sang mawar, mahkotamu yang merah itu tercerai berai di atas tanah. Sementara aku si melati putih kecil juga ada disana, ditempat yang sama denganmu. Kita bertebaran diatas tanah, menemani orang yang ada didalamnya, orang yang mungkin pernah memberimu beberapa tetes darah karena tusukan durimu. Kau tau apa artinya itu wahai sang mawar yang merah?
Sang mawar masih diam, masih..
 
 

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.