Skip to main content
SANG MAWAR (Merah)
Sang mawar masih diam, perlahan tangkainya berayun memandang ke ujung bukit. Disana terbaring manusia segala masa, membawa dosa dan do'a, hampir disemua gundukan tanahnya dihiasi uraian mahkota bunga mawar dan melati-melati kecil putih sebagai pengharapan pelayat agar tertunda siksa.
Kematian tidak akan pernah terlambat wahai sang mawar, tapi aku, kadang terlambat menyadarinya. Saat saat mekar memang terasa indah seolah aku memiliki kebahagiaan tanpa akhir, harusnya aku mengingat wahai sang mawar, selalu mengingat... bahwa aku tumbuh dan berkuncup dari tanah maka pada akhirnya aku akan gugur dan jatuh ke tanah.
Apakah kau mengejekku hei melati?
Tidak sang mawar, aku hanya takut.
Takut?
 Sang mawar mungkin esok hari aku sudah gugur kebumi, maka aku hanya ingin ngobrol denganmu mungkin untuk yang terakhir kali.
Aku muak dengan omonganmu hei melati kecil, kau telah merusak malamku yang tenteram. Jika kau ingin enyah, enyah saja tak perlu berbasa-basi seperti itu.
Sang mawar merasa sangat kesal dengan omongan si melati, entah kenapa, sang mawar kemudian kembali tegak menghadap langit, menatap bulan yang purnama.

Apakah purnama selalu terlihat sma disetiap bulannya?

 
 
 
 

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.