SANG MAWAR (Merah)
Sang mawar masih diam, perlahan tangkainya berayun memandang ke ujung bukit. Disana terbaring manusia segala masa, membawa dosa dan do'a, hampir disemua gundukan tanahnya dihiasi uraian mahkota bunga mawar dan melati-melati kecil putih sebagai pengharapan pelayat agar tertunda siksa.
Kematian tidak akan pernah terlambat wahai sang mawar, tapi aku, kadang terlambat menyadarinya. Saat saat mekar memang terasa indah seolah aku memiliki kebahagiaan tanpa akhir, harusnya aku mengingat wahai sang mawar, selalu mengingat... bahwa aku tumbuh dan berkuncup dari tanah maka pada akhirnya aku akan gugur dan jatuh ke tanah.
Apakah kau mengejekku hei melati?
Tidak sang mawar, aku hanya takut.
Takut?
Sang mawar mungkin esok hari aku sudah gugur kebumi, maka aku hanya ingin ngobrol denganmu mungkin untuk yang terakhir kali.
Aku muak dengan omonganmu hei melati kecil, kau telah merusak malamku yang tenteram. Jika kau ingin enyah, enyah saja tak perlu berbasa-basi seperti itu.Sang mawar merasa sangat kesal dengan omongan si melati, entah kenapa, sang mawar kemudian kembali tegak menghadap langit, menatap bulan yang purnama.
| Apakah purnama selalu terlihat sma disetiap bulannya? |
Comments
Post a Comment