Skip to main content

Lelaki Penentang Jalan dan Bidadari

Keningmu telah dipenuhi peluh saat dirimu tiba diujung jalan itu, seikat bunga krisan putih di tangan kananmu masih tampak segar meski matahari semakin terik. Akhirnya dirimu tiba disana dengan membawa seikat bunga krisan putih yang tidak harum untuk seorang gadis dan ternyata gadis itu bukan aku. Aku berdiri di jalan lain, jalan yang tak pernah kau lewati. Selama ini aku dapat melihat langkah kakimu dari bukitku berdiri, mengagumi setiap jengkal perjalannamu, sayang sungguh sayang dirimu tak melewati jalan ini, jalan tempatku berdiri. Tetesan air masih terus jatuh dari langit dari tempatku berdiri, membaur bersama air mataku yang asin. Disana kulihat mentari bersinar begitu cerah secerah wajah gadis itu, lalu kau menggandeng tangannya dan kalian berdua tertawa bersama. Dirimu lalu melanjutkan perjalanan yang masih panjang, berliku dan menanjak tapi tidak seorang diri karena telah ada bidadari yang begitu indah berada disisimu, menemani perjalananmu, yang akan memayungimu ketika hujan datang dan mengusap peluhmu saat panas terik. Disini hujan semakin deras, membasahi rumput-rumput liar dan hatiku. Perlahan-lahan bayanganmu dan bayangannya menghilang dibalik bukit, meninggalkan jejak-jejak lumpur di aspal yang hitam.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.