Keningmu telah dipenuhi peluh saat dirimu tiba diujung jalan itu, seikat bunga krisan putih di tangan kananmu masih tampak segar meski matahari semakin terik. Akhirnya dirimu tiba disana dengan membawa seikat bunga krisan putih yang tidak harum untuk seorang gadis dan ternyata gadis itu bukan aku. Aku berdiri di jalan lain, jalan yang tak pernah kau lewati. Selama ini aku dapat melihat langkah kakimu dari bukitku berdiri, mengagumi setiap jengkal perjalannamu, sayang sungguh sayang dirimu tak melewati jalan ini, jalan tempatku berdiri. Tetesan air masih terus jatuh dari langit dari tempatku berdiri, membaur bersama air mataku yang asin. Disana kulihat mentari bersinar begitu cerah secerah wajah gadis itu, lalu kau menggandeng tangannya dan kalian berdua tertawa bersama. Dirimu lalu melanjutkan perjalanan yang masih panjang, berliku dan menanjak tapi tidak seorang diri karena telah ada bidadari yang begitu indah berada disisimu, menemani perjalananmu, yang akan memayungimu ketika hujan datang dan mengusap peluhmu saat panas terik. Disini hujan semakin deras, membasahi rumput-rumput liar dan hatiku. Perlahan-lahan bayanganmu dan bayangannya menghilang dibalik bukit, meninggalkan jejak-jejak lumpur di aspal yang hitam.
Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...
Comments
Post a Comment