Skip to main content

Lelaki Penentang Jalan

   Kabut tipis lamat lamat menghilang diterpa sinar mentari pagi, menyibakkan rumput-rumput liar disepanjang jalan yang basah karena hujan tadi malam, jalan yang kini kau daki. Sepatu coklatmu tetap berwarna coklat meski bercak-bercak lumpur mengenainya. Dirimu berhenti sebentar di dekat pohon cemara angin untuk mengikat tali sepatumu yang lepas. Dirimu terus berjalan, melewati kebun-kebun stroberi yang berbuah ranum, melewati kebun-kebun wortel, seledri dan kol yang siap dipanen. Kadang embun pagi yang menggantung di ujung daun menetes di rambut hitammu yang lebat. Matahari sudah semakin tinggi namun dirimu masih terus berjalan membawa seikat bunga krisan putih yang tidak harum.
      Andai kau tau bahwa jalan yang akan kau lalui masih sangat jauh, berliku dan menanjak. Namun meskipun dirimu mengetahuinya aku tau kau akan tetap terus berjalan. Sebenarnya aku ingin berada disampingmu selama perjalanan itu untuk sekedar menemanimu mengobrol, memayungimu saat hujan datang atau sekedar melihat senyum anehmu. Tapi sebaiknya tidak, kau lebih baik berjalan sendiri menentang panas yang sangat dan dingin yang membekukan. Aku sebaiknya tetap disini untuk menunggumu dan melantunkan baitan do'a-do'a di setiap malam sunyi demi segala kebaikanmu.
Biarkan segalanya berjalan seperti seharusnya maka waktu akan menjawab, karena setiap tetes keringat yang kau keluarkan, setiap tetes air mata yang jatuh dipipimu dan setiap tawa yang terukir di wajahmu, semuanya akan terbayar, lunas.
      Dirimu masih berjalan meski sepatu coklatmu telah dipenuhi bercak lumpur, melewati jajaran pohon flamboyan yang sedang berbunga, tiba-tiba dirimu berhenti, menatap ke atas kepada kumpulan bunga-bunga flamboyan yang merah menyala dan tersenyum lalu melanjutkan perjalananmu dengan seikat bunga krisan putih di tangan kananmu.
      Sementara aku, aku masih disini, menunggumu. Aku tau dirimu pasti datang, karena itu meski gerimis telah turun membasahi rumput-rumput liar aku tetap berdiri disini menunggumu membawakan aku seikat bunga krisan putih yang tidak harum.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.