Skip to main content

Suatu masa disudut hati

Suatu masa disudut hati.

Siapakah orang yang paling kamu cintai? Diriku sendiri, tapi tetap saja aku tak pernah bisa terlalu mencintai sesuatu, belum pernah, bahkan untuk diriku sendiri.
Orang tua? Ya, tentu saja mereka adalah segalanya, lebih dari sekedar cinta.
Buktinya? Mau bukti apa? Sudah kubilang mereka segalanya, lebih dari sekedar cinta. Bahkan sesungguhnya cinta itu tak pernah bisa dibuktikan dengan jelas, parameternya tidak pernah akurat, lalu bukti apalagi yang kau minta? Bisa kita anggap ini retoris?
Bukankah tidak ada orang di atas bumi ini yang tak pernah jatuh cinta? Ya, kau benar.
Termasuk dirimu? Termasuk diriku.
Seperti apa cintamu itu? Bisa kita ganti pertanyaan lain yang lebih berbobot?
Jadi pertanyaan barusan kurang berbobot? Ya.
Bisa kau beri contoh satu pertanyaan yang berbobot? Kenapa pada monokotil keberadaan sitokinin diabaikan pada pembentukan kalus?
Ini bukan sidang skripsi, oke? Oke, tapi pertanyaan tadi tak pernah muncul pada sidang skripsiku.
Kita lanjutkan, tadi sampai mana? Aku juga lupa.
Kau memang pelupa! Aku hanya tak mengingat hal-hal tidak penting.
Bukankah itu sama saja? Tidak.
Apa bedanya? Aku akan melupakan hal yang kuanggap tidak penting dan mengingat hal yang penting _bagiku_.
Jadi masihkah kau mengingat cintamu? Apa kau tau? Kebanyakan manusia bisa jatuh cinta berulang kali, entah pada orang yang berbeda atau pada orang yang sama.
Masihkah kamu mengingat semuanya? Haruskah aku menceritakannya?
Kenapa kamu begitu tertutup? Kenapa aku harus begitu terbuka?
Jika kau begini terus, lalu siapa yang akan mengertimu? Aku tidak meminta seorangpun untuk mengertiku.
Lalu? Apa kamu penasaran?
Aku hanya bertanya? Haruskah aku hanya menjawab?
Aku lelah dengan jawabanmu. Aku juga lelah, mari kita istirahat sebentar. Apakah kau mau kopi?
Kau punya kopi? Tidak, tapi kita bisa membelinya dipinggiran selat madura sambil menikmati indahnya suramadu.
Baiklah, bisakah kita berangkat sekarang? Oke.




Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.