Suatu masa disudut hati.
Siapakah orang yang paling kamu cintai? Diriku sendiri, tapi tetap saja aku tak pernah bisa terlalu mencintai sesuatu, belum pernah, bahkan untuk diriku sendiri.
Orang tua? Ya, tentu saja mereka adalah segalanya, lebih dari sekedar cinta.
Buktinya? Mau bukti apa? Sudah kubilang mereka segalanya, lebih dari sekedar cinta. Bahkan sesungguhnya cinta itu tak pernah bisa dibuktikan dengan jelas, parameternya tidak pernah akurat, lalu bukti apalagi yang kau minta? Bisa kita anggap ini retoris?
Bukankah tidak ada orang di atas bumi ini yang tak pernah jatuh cinta? Ya, kau benar.
Termasuk dirimu? Termasuk diriku.
Seperti apa cintamu itu? Bisa kita ganti pertanyaan lain yang lebih berbobot?
Jadi pertanyaan barusan kurang berbobot? Ya.
Bisa kau beri contoh satu pertanyaan yang berbobot? Kenapa pada monokotil keberadaan sitokinin diabaikan pada pembentukan kalus?
Ini bukan sidang skripsi, oke? Oke, tapi pertanyaan tadi tak pernah muncul pada sidang skripsiku.
Kita lanjutkan, tadi sampai mana? Aku juga lupa.
Kau memang pelupa! Aku hanya tak mengingat hal-hal tidak penting.
Bukankah itu sama saja? Tidak.
Apa bedanya? Aku akan melupakan hal yang kuanggap tidak penting dan mengingat hal yang penting _bagiku_.
Jadi masihkah kau mengingat cintamu? Apa kau tau? Kebanyakan manusia bisa jatuh cinta berulang kali, entah pada orang yang berbeda atau pada orang yang sama.
Masihkah kamu mengingat semuanya? Haruskah aku menceritakannya?
Kenapa kamu begitu tertutup? Kenapa aku harus begitu terbuka?
Jika kau begini terus, lalu siapa yang akan mengertimu? Aku tidak meminta seorangpun untuk mengertiku.
Lalu? Apa kamu penasaran?
Aku hanya bertanya? Haruskah aku hanya menjawab?
Aku lelah dengan jawabanmu. Aku juga lelah, mari kita istirahat sebentar. Apakah kau mau kopi?
Kau punya kopi? Tidak, tapi kita bisa membelinya dipinggiran selat madura sambil menikmati indahnya suramadu.
Baiklah, bisakah kita berangkat sekarang? Oke.
Comments
Post a Comment