Skip to main content

Suatu masa di sudut ganglia

Suatu masa di sudut ganglia.

Kok jam segini belum tidur? Iya, gak bisa tidur nih.
Gak bisa tidur apa gak mau tidur? Haha, tau aja.
Emangnya kenapa? Gak tau, males aja.
Kamu tau kan itu gak baik buat kesehatan? Taulah, trus gimana lagi. Eh tapi aku tidur cukup kok.
Kamu jadi kelelawar? Yah gitu deh, kelelawar diantara manusia 'normal'.
Kamu gak nyuci baju? Itu pertanyaan apaan..
Habis aku bingung mau nanya apa. Em, kita diskusi aja.
Eh kamu serius jam segini masih nyanggong depan laptop, gak takut gitu orang-orang pada mikir aneh-aneh? So what?? Itu pikiran mereka, bukan pikiran gue. Pikiran mereka gak akan ngebunuh kita, santai sob.
Tapi kan pikiran mempengaruhi perasaan, perasaan mempengaruhi sikap! Jadi maksudmu sikap mereka jadi 'beda' gitu? whateverlah ya, sikap mereka mau gimana ya urusan mereka. Silahkan bersikap semaumu asal gak ganggu aku aja. Ayolah, ngapain mikirin orang lain yang cuma mikir jelek tentang kita?!
Aku cuma pingin kamu hidup secara sosial. Hey, aku hidup secara sosial, tapi cuma sosial dalam pengertianku gak sama dengan sosial dalam pemahaman mereka. Aku hidup dengan jalanku, pilihanku, tindakanku semuanya ada alasannya. Kalau toh ada yang salah paham, sok tau, terlalu cepat mengambil kesimpulan atasku apa itu salahku? Mereka gak tau secara utuh tapi sudah nuduh-nuduh, lalu buat apa aku mendengarkan? Percuma.
Mereka yang kau maksud siapa? Mereka ya mereka, orang-orang sok tau yang terlalu cepat mengambil kesimpulan atas segala tindakanku, sikapku, kemarahanku. Mereka yang teriak-teriak seolah lebih tau aku dibanding diriku sendiri. Mereka yang menilai dari satu dua aspek, kau lihat sendirikan aku punya ribuan sisi yang tak semua orang tau. Jadi tolong jangan salahkan aku jika aku bertingkah sedikit berbeda dari para manusia 'normal'.
Tindakan terbaikmu adalah mengacuhkan mereka? Ya, sepatutnya mengacuhkan, seperlunya bersapa.
Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan? Aku ingin pergi ke tempat baru, memulai hidup baru, memulai hubungan sosial baru, mempelajari lingkungan baru, lingkungan yang penuh tantangan tentunya. Beruntunglah orang-orang yang diberi kesempatan menjelajahi setiap sudut dunia, semoga aku salah satunya.
Jadi lingkunganmu yang sekarang tidak menarik? Bukannya begitu, tapi aku sudah bosan. Aku telah menaklukkannya, aku ingin lingkungan baru yang lebih segar. Aku kadang muak dengan rutinitas yang membosankan.
Sebutkan satu saja tempat yang ingin kau kunjungi? Paris.
Karena kota romantis? Bukaannn, aku sama sekali gak mikir kalo Paris itu kota romantis. Entah kenapa aku pingin aja gitu liat menara Eiffel, ya mau romantis apa gak romantis sih gak masalah buatku. Sama seperti saat kamu jatuh cinta, terkadang kamu tidak pernah menemukan alasan yang paling tepat, tapi tetap saja hatimu berkata iya.
Aku tidak pernah jatuh cinta, aku kan logika. Sebenarnya pernah, mungkin saat itu kamu sedang mati suri.
Benarkah? Ya, benar.
Aku tidak bisa mengingatnya. Tidak usah diingat, kamu akan malas membongkar-bongkar masalalu.
Kau benar, masalalu ya masalalu tak usah kau pikirkan. Plis deh, bukan gue kali yang mikirin.
Sudah sangat larut, tidurlah. Good advice, ayo kita coba.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.