Hujan itu, tidak turun satu-satu ke hatimu
Ia tumpah dari langit menghantam tanah, membentuk kubangan yang bisu
Airnya membasahi kelopak-kelopak bunga flamboyan
Meski berhari-hari, berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan air itu membasuhnya
Tak sedikitpun warna merah luntur dari kelopak indahnya
Tidak, sang flamboyan tak pernah gusar
Karena dia tau bukan air hujan yang akan merusak kelopaknya, sama sekali bukan
Sang flamboyan hanya menunggu waktu, waktu saat dia gugur
kepastian yang tidak bisa ditawar, sepertinya hatimu juga begitu
Hujan masih membasahi malam, menyamarkan purnama yang bundar
dengarlah, sekali ini dengarkanlah nyanyian sang flamboyan
kelopaknya yang merah jatuh ke kubangan yang bisu
merangkaikan syair yang menyayat kalbu,
bisakah kau merasakannya? bisa?
Ia tumpah dari langit menghantam tanah, membentuk kubangan yang bisu
Airnya membasahi kelopak-kelopak bunga flamboyan
Meski berhari-hari, berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan air itu membasuhnya
Tak sedikitpun warna merah luntur dari kelopak indahnya
Tidak, sang flamboyan tak pernah gusar
Karena dia tau bukan air hujan yang akan merusak kelopaknya, sama sekali bukan
Sang flamboyan hanya menunggu waktu, waktu saat dia gugur
kepastian yang tidak bisa ditawar, sepertinya hatimu juga begitu
Hujan masih membasahi malam, menyamarkan purnama yang bundar
dengarlah, sekali ini dengarkanlah nyanyian sang flamboyan
kelopaknya yang merah jatuh ke kubangan yang bisu
merangkaikan syair yang menyayat kalbu,
bisakah kau merasakannya? bisa?
Comments
Post a Comment