Skip to main content

Suatu masa di sudut hatinya

Baiklah, bisa kita mulai lagi? Oke, eh sebentar, aku boleh bertanya sesuatu?
Apa? Kenapa kau terus bertanya padaku?
Jadi kau tak mengerti kenapa aku terus bertanya padamu? Belum, coba jelaskan.
Aku terus bertanya agar kau tidak gila, paham? Maksudnya?
Ingat, kau tak pernah bercerita kepada siapapun tentang hatimu. Kalau aku tidak bertanya kau mungkin akan bicara sendiri dan menjadi gila. Harusnya kau berterima kasih kepadaku! Oke, terima kasih.
Bagaimana harimu hari ini? Standart.
Apakah kau bertemu dengan cintamu? Cinta apa?
Aku ini hatimu, bukan otakmu! Ya, lalu?
Berbicalah dari hati ke hati, kita tidak sedang wawancara kerja! Aku tak pernah melakukannya.
Yang mana? Dua-duanya.
Bagaimana perasaanmu sekarang? Gak oke. Sudahlah, aku muak dengan pertanyaan-pertanyaanmu. Tau tidak, masih banyak masalah yang harus kuhadapi, yang jauh lebih penting dari masalah hati. Percakapan ini tak berguna.
Suatu saat nanti kau akan mencariku. Oke, bisa kau pergi sekarang? Kau sama sekali tak membantu.

Dan hati itu pun tidur kembali, tidur dalam mati suri.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.