Malam ini agaknya sedikit mendung, di balik kelabunya malam bintang mengutuk awan.
"Oh, sudah panas-panas aku menanti, sudah seharian aku terpanggang matahari, tapi saat petang datang mendung menggantung menyelubungi pantulan cahayaku yang indah."
"Wahai mendung-mendung hitam, bergeserlah sedikit, engkau menutupi kami, menutupi kerlip kecil cahaya kami dari pandangan orang-orang di bumi?"
Mendung hitam diam sejenak, lalu menjawab,
"Sudah berapa ribu hari yang kalian lewati dengan memandang bumi, apakah kalian tak jemu?"
"Bagaimana mungkin kami jemu, jika selalu ada pengagum dalam setiap malam berbintang?"
"Bukankah itu terjadi sudah dulu sekali? Apakah kau tak melihat kerlap-kerlip warna-warni lebih semarak menghias bumi? Mereka menyebutnya lampu, lampu taman, lampu jalan, lampu pusat perbelanjaan, lampu apartemen, lampu disko. Mereka memiliki segala jenis lampu yang memancarkan segala jenis cahaya, mereka tak perlu lagi memandang bintang!"
"Ah ya aku tau, tapi itu hanya terjadi di titik-titik tertentu di bumi. Lihatlah masih banyak yang nyaris gelap gulita saat petang menjelang. Orang-orang seperti itu masih membutuhkan kami, kerlip bintang"
"Orang-orang seperti itu bukan memandangmu wahai bintang, mereka menengadah untuk menahan air mata, takut merunduk karena tangis mereka akan tumpah ruah membanjiri tanah".
Comments
Post a Comment