Skip to main content

Bintang-bintang terdiam

Malam ini agaknya sedikit mendung, di balik kelabunya malam bintang mengutuk awan.
"Oh, sudah panas-panas aku menanti, sudah seharian aku terpanggang matahari, tapi saat petang datang mendung menggantung menyelubungi pantulan cahayaku yang indah."
"Wahai mendung-mendung hitam, bergeserlah sedikit, engkau menutupi kami, menutupi kerlip kecil cahaya kami dari pandangan orang-orang di bumi?"
Mendung hitam diam sejenak, lalu menjawab,
"Sudah berapa ribu hari yang kalian lewati dengan memandang bumi, apakah kalian tak jemu?"
"Bagaimana mungkin kami jemu, jika selalu ada pengagum dalam setiap malam berbintang?"
"Bukankah itu terjadi sudah dulu sekali? Apakah kau tak melihat kerlap-kerlip warna-warni lebih semarak menghias bumi? Mereka menyebutnya lampu, lampu taman, lampu jalan, lampu pusat perbelanjaan, lampu apartemen, lampu disko. Mereka memiliki segala jenis lampu yang memancarkan segala jenis cahaya, mereka tak perlu lagi memandang bintang!"
"Ah ya aku tau, tapi itu hanya terjadi di titik-titik tertentu di bumi. Lihatlah masih banyak yang nyaris gelap gulita saat petang menjelang. Orang-orang seperti itu masih membutuhkan kami, kerlip bintang"
"Orang-orang seperti itu bukan memandangmu wahai bintang, mereka menengadah untuk menahan air mata, takut merunduk  karena tangis mereka akan tumpah ruah membanjiri tanah".

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.